Pada rentang waktu antara tahun 1885 hingga 1936, tertulis kisah perjalanan sebuah kota kecil di Jawa Timur yang pernah berjaya sebagai pelabuhan gula kedua di Jawa. Pasoeroean—atau yang kita kenal kini sebagai Pasuruan—menyimpan cerita tentang denyut nadi industri gula, gemerlap Pasar Uang, hingga sunyinya stasiun misi yang baru tumbuh di tengah kemunduran ekonomi.

Terjemahan ini lahir dari hasrat untuk merajut kembali benang-benang sejarah, yang terserak dalam lembaran-lembaran tua berbahasa Belanda. Sebuah jendela telah terbuka untuk mengintip secercah kehidupan di Hindia Belanda pada masa transisi itu. Ketika gula tak lagi manis, ketika krisis ekonomi mengubah segalanya.

Berikut ini beberapa lembar kisah pilu dan bahagia para Suster Misionaris yang berjuang di tengah terik matahari Kota Pasuruan. Mereka merintis berdirinya sebuah lembaga pendidikan katolik untuk anak-anak Cina dan pribumi (HCS dan HIS) dengan nama “Clara Fey School” atau yang sekarang dikenal dengan sekolah “Sang Timur” di Kota Pasuruan. Menjadi yang pertama di pulau Jawa dari Kongregasi Zusters van het arme Kind Jezus (Kanak-Kanak Yesus yang Miskin), persembahan para putri dari Bunda Clara Fey di Simpelveld, Belanda.

Stasiun Misi Terbaru Kami

Sekitar 60 km dari Surabaya terletak kota kecil Pasuruan. Tempat ini, yang dahulu dikenal sebagai pelabuhan gula kedua di Jawa, kini mengalami kemunduran akibat merosotnya industri gula. Meskipun masih memiliki stasiun percobaan/penelitian gula, namun karena penghematan dan pemotongan anggaran yang terus-menerus, hanya tinggal beberapa karyawan saja yang bekerja di sana.

Jumlah orang Eropa telah menyusut hingga sekitar 400 orang. Kantor-kantor pengapalan besar hampir semuanya harus memberhentikan karyawan Eropa dan ratusan tenaga kerja pribumi.

Akibat kemunduran kota ini, beberapa tahun yang lalu Kursi Residen juga dipindahkan dari Pasuruan ke Malang, kota pegunungan yang ramah dan menawan, yang diberkahi iklim sejuk dan terus berkembang pesat.

Bahwa Pasuruan dahulu adalah tempat yang kaya dan terkemuka, terbukti dari namanya sendiri, yang berasal dari kata: Pasar Oeang, yaitu pasar tempat beredarnya uang dalam jumlah besar. Kejayaan masa lalunya juga disaksikan oleh rumah-rumah megah milik orang-orang Tionghoa kaya raya yang dulu menetap di pasar uang ini dan menguasai kehidupan perdagangan di sana.

Sebuah saksi bisu dari masa lalu yang lebih baik adalah juga Gereja Katolik, yang sudah dibangun pada tahun 1895, jadi beberapa tahun sebelum gereja di Malang. Gereja kecil ini, panjang 20 m dan lebar 8 m, didirikan atas kedermawanan keluarga Portugis kaya raya, Keluarga Anthonijs. Gereja ini berlantai marmer dan langit-langitnya tinggi dan lapang, sehingga memberikan kesan segar dan menyenangkan. Gereja ini dibangun di Heerenstraat, tidak jauh dari stasiun kereta api.

Gereja Katolik di Heerenstraat Pasuruan. Foto tahun 1936.

Akibat kekurangan imam yang parah di tahun-tahun awal, hanya sesekali seorang misionaris bisa datang untuk memimpin Perayaan Ekaristi Kudus.

Baru pada tahun 1932, Pasuruan mendapatkan pastor tetapnya. Sebuah pastorate kecil bergaya paviliun dibangun di samping gereja yang sudah ada, dan sekarang ada sebuah stasiun misi tetap. Tetapi sebuah stasiun dengan hanya segelintir umat Katolik Eropa, yang jumlahnya terus berkurang, sehingga pada hari Minggu, hanya sekitar 25 sampai 30 orang yang menghadiri Misa Kudus. Semua itu akan berubah, ketika beberapa bulan kemudian para Suster datang menetap di sini.

Bagian dalam gereja Katolik di Pasuruan. Foto tahun 1936.

Para Suster dari Kongregasi Kanak-Kanak Yesus yang Miskin (Simpelveld), putri-putri dari Bunda Clara Fey, dengan murah hati menawarkan diri untuk mendukung karya misi di Prefektur kami; dan Superior kami, Mgr. van der Pas, dengan senang hati menerima tawaran itu.

Pada bulan Juni 1932, 6 (enam) Suster pertama dari Kongregasi ini, yang berkobar dengan semangat misioner, menyeberangi lautan untuk mendirikan rumah misi pertama mereka di Pasuruan.

Oleh pengurus Yayasan Karmel di Hindia, untuk para Suster ini telah dibeli sebuah rumah besar bergaya Indisch dengan harga yang wajar, lengkap dengan tanah lapang yang luas.

Di sinilah para Suster menempati tempat tinggal mereka, sebaik dan semampu mereka. Karena rumah itu memang awalnya dibangun dengan baik, tetapi bertahun-tahun terlantar; jadi banyak yang harus dibenahi. Selain itu, perabotan yang paling diperlukan sudah disediakan, tetapi masih banyak sekali kekurangan, sehingga para Suster memiliki banyak kesempatan untuk merasakan bahwa mereka adalah biarawati dan telah mengikrarkan kaul kemiskinan. Terutama kehadiran ular, kalajengking, dan kadal, merupakan salib dan siksaan yang nyata bagi para Suster yang baru tiba dari Belanda ini.

Kesulitan baru muncul dengan pendirian sekolah. Karena ternyata tidak ada kemungkinan untuk mendirikan sekolah Eropa kedua (atau ketiga), maka akan dimulai dengan sekolah Belanda-Cina. Pasalnya Pasuruan sejak dahulu adalah kota dengan penduduk Cina yang sangat banyak.

Karena tidak ada tempat lain, sekolah harus dimulai di rumah tinggal para Suster; mereka akan berusaha mengakalinya.

Baru beberapa hari berada di negeri baru, di lingkungan yang sama sekali asing, di rumah yang sulit dihuni, mereka harus memulai sekolah. Berkat perhatian dari sebuah keluarga Cina Katolik, terkumpullah beberapa anak, tepatnya 21 orang, tetapi dengan usia yang berbeda-beda, dan beberapa sudah pernah bersekolah, sementara yang lain sama sekali belum. Anak-anak ini tidak bisa berbahasa Belanda, sebaliknya para Suster tidak tahu sepatah kata pun bahasa Melayu. Sungguh suatu keadaan yang sulit.

Tetapi dengan kegigihan, ketekunan dan naluri alamiah kewanitaan, mereka berhasil melewatinya, sebaik dan semampu mereka.

Namun mereka kesulitan untuk tetap menjaga semangat. Pimpinan mereka dulunya adalah kepala sekolah MULO di sebuah kota besar; para Suster lainnya pernah mengajar di sekolah-sekolah yang ramai dikunjungi; dan di sini hanya segelintir anak Cina. Dengan berkobar semangat misioner mereka berangkat ke Hindia, yakin bahwa di negeri matahari abadi mereka akan dapat bekerja lebih banyak untuk Kristus Raja daripada di tanah air.

Dan sekarang mereka berada di negeri misi yang sangat diidamkan; dan apa yang bisa mereka lakukan sekarang untuk Tuhan kita?

Mereka bahkan tidak berani berbicara kepada anak-anak ini tentang Tuhan atau agama, takut anak-anak yang sedikit itu pun akan lari. Lagipula mereka tidak dimengerti dan dipahami.

Sementara itu, para Suster melakukan banyak hal untuk Misi, dengan menanggung semua kesulitan, ketidaknyamanan, dan salib dari kehidupan baru ini karena cinta kepada Tuhan, dan tidak terkecuali panas terik matahari tropis yang tak tertahankan, yang menyengat tanpa ampun hari demi hari. Karena Pasuruan adalah salah satu tempat terpanas di Hindia.

Bulan-bulan pertama berlalu hampir tanpa perubahan. Beberapa anak bertambah, tetapi jumlah yang sama banyaknya pergi.

Tanggal 1 Oktober (1932), jadi empat bulan kemudian, jumlah murid menjadi 30 (tiga puluh). Lalu tiba-tiba datanglah perubahan baik. Seorang nona Cina, yang memiliki sekolah swasta, menawarkan sekolah itu kepada para Suster untuk diambil alih, dan tentu saja mereka menyambutnya dengan antusias.

Selain itu, pada bulan Januari 1933 bahkan 42 murid baru menambah jumlah anak-anak, sehingga kelas dua dan tiga juga bisa dibentuk. Tapi di mana menampung anak-anak itu? Tidak perlu khawatir! Para Suster itu kreatif. Bangunan-bangunan tambahan ditata menjadi ruang kelas: memang primitif, tetapi berfungsi.

Sementara itu, para Suster sudah memberanikan diri – Suster seringkali bisa berani atau sangat pemberani – dan mulai berdoa sebelum dan sesudah pelajaran. Keberanian yang nekat, mengingat beberapa orang tua Cina menyekolahkan anak mereka dengan syarat bahwa mereka tidak perlu menjadi Katolik. Namun anak-anak tidak diwajibkan ikut berdoa, hanya diminta duduk diam selama doa berlangsung. Anak-anak itu pun membiarkan para Suster berdoa dengan tenang; tidak satu pun menunjukkan ketertarikan pada agama, bahkan beberapa dengan tegas berkata (mereka sudah belajar sedikit bahasa Belanda): “Saya tidak mau berdoa, Suster.

Akan tetapi, jumlah murid terus bertambah secara teratur, sehingga awal Juli 1933 tahun ajaran baru dimulai dengan 180 murid.

Dan dalam Oktaf pesta Bunda Maria dari Gunung Karmel, tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, beberapa anak laki-laki dan perempuan datang bertanya kepada para Suster, apakah mereka boleh belajar berdoa. Para Suster tentu saja merasa senang sekali, asalkan orang tua mereka setuju. Pada hari Minggu berikutnya, ada 22 anak Cina di gereja untuk mengikuti Misa Kudus. Dan jumlah ini terus bertambah secara teratur, sehingga sekarang setiap hari Minggu 80 sampai 100 anak datang ke gereja.

Sebagian besar anak-anak ini juga menerima pelajaran agama secara teratur, dan beberapa sudah dapat dibaptis, jika orang tua mereka menyetujuinya. Orang tua itu memang mengizinkan anak-anak mereka diberi pelajaran agama, tetapi mereka mundur jika harus membaptis mereka, seolah-olah dengan demikian mereka akan menjadi tidak setia pada bangsanya sendiri.

Dalam hal ini mereka masih sangat berpegang teguh pada adat istiadat lama. Hampir di setiap rumah keluarga Cina masih dapat dijumpai meja/altar abu leluhur, di mana pada waktu-waktu tertentu dalam setahun dipersembahkan kurban kepada roh para leluhur. Kaum muda memang sering mengangkat bahu untuk hal ini dan hanya ikut serta karena terpaksa: tetapi mereka sangat disiplin dan taat dalam segala hal. Terutama jika ada nenek di rumah (dan itu terjadi di banyak keluarga), maka neneklah yang menjadi penguasa mutlak, dan adat istiadat leluhur dijalankan dengan teliti.

Beberapa hari yang lalu, seorang gadis datang kepada para Suster sambil menangis menceritakan bahwa ia tidak diizinkan kembali bersekolah (ia bersekolah di H.B.S. di Surabaya), karena orang tuanya telah mempertunangkannya (tanpa sepengetahuannya) dan ia harus segera menikah. Dan dalam semua ini, sekali lagi sang neneklah yang berhasil memaksakan seluruh rencana ini.

Setiap kali kami harus mendengar di sini: “Saya ingin sekali dibaptis, atau saya ingin datang ke gereja, tetapi… nenek tidak mengizinkannya.

Bolehkah saya meminta doa yang sungguh-sungguh dari Anda, agar di masa depan perlawanan dari pihak nenek ini dapat diatasi?

9 (sembilan) orang Suster pertama yang menjalankan misi di Pasuruan. Sayangnya tidak tercantum detail masing-masing namanya. Foto tahun 1936.

Sumber : Carmelrozen; geĂŻllustreerd maandschrift gewijd aan de vereering van Maria, jrg 24, 1936, no. 11, 1936.

Album Foto :


Suster Pertama (6 orang) dari Kongregasi Anak Yesus yang Miskin, yang pergi ke Pasuruan (Jawa) pada Hari Kenaikan Yesus, 5 Mei 1932. (baris depan dari kiri ke kanan) : Zr. Andrea Ludwiga en Zr. Catharina Maria; (baris kedua dari kiri ke kanan) : Zr. Francisca Josepha, Zr. Stanislaus Maria, Zr. Reiniera Maria en Zr. Anna Reineria. Yang di tengah diduga kuat adalah bunda Fransisca Cruce, Pimpinan Provinsi Belanda,
Para Suster dan murid-murid sekolah Clara Fey di depan gedung sekolah baru di Pasuruan yang dibuka tahun 1934.
Foto bersama di gedung utama sekolah Clara Fey di Pasuruan tahun 1934.

Postingan Terkait :

Kamp Interniran atau Kamp Bersiap di Pasuruan

“LAHIRNYA CLARA FEY SCHOOL atau KATOLIK ROMA HIS dan HCS di PASURUAN” + Koleksi Foto para Guru & Alumni awal