3 Februari 1942: “Ongeschokt!” – Ketika Langit Surabaya Berubah Menjadi Medan Perang

KORAN SURABAYA, 4 Februari 1942 — “Ongeschokt!” (Tidak Goyah!). Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan ketangguhan warga Surabaya dalam menghadapi ujian pertama perang modern. Pada Selasa pagi, 3 Februari 1942, sekitar pukul 10.15, sirine peringatan udara meraung-raung di seluruh penjuru kota. Apa yang selama ini hanya berupa teori dan latihan perlindungan sipil, kini menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh seluruh lapisan masyarakat. De Indische Courant menyebut hari itu sebagai “pembaptisan api” (vuurdoop) bagi kota dagang terpenting di Jawa Timur ini.

Berdasarkan laporan dari harian De Indische Courant dan Soerabaijasch Handelsblad edisi 4 Februari 1942, serangan yang berlangsung sekitar dua setengah jam ini menandai babak baru dalam Perang Pasifik di wilayah Jawa Timur.

KRONOLOGI SERANGAN

Pukul 10.00 – 10.15: Sirine peringatan udara berbunyi di seluruh kota. De Indische Courant mencatat bahwa suara sirine terdengar relatif lemah hingga sempat menimbulkan keraguan. Namun, tidak diragukan lagi—itu adalah lolongan alarm yang menandakan ancaman serangan udara. Masyarakat bergegas menuju tempat-tempat perlindungan yang telah disiapkan, meskipun masih banyak warga yang terlihat lalai. Soerabaijasch Handelsblad mengkritik keputusan trem kota yang tetap beroperasi dan banyaknya warga yang masih berkerumun di jalan.

Pukul 10.45 – 11.00: Setelah masa penantian yang menegangkan selama sekitar tiga perempat jam, formasi besar pesawat musuh muncul dari arah selatan. De Indische Courant menggambarkan sekitar 27 pesawat terbang dalam formasi rapi, berkilauan putih kontras dengan latar langit biru muda. Pesawat-pesawat tempur musuh terbang rendah menyapu target-target mereka sambil menembakkan senapan mesin. “Dog-fights” atau pertempuran udara antara pesawat tempur Belanda dan Jepang terjadi di atas kota, dengan suara tembakan artileri pertahanan udara dan gemertak senapan mesin saling bersahutan.

Pukul 10.45 – 12.30: Hujan bom menghujani berbagai kawasan kota. Pertahanan udara Belanda membalas dengan tembakan artileri berat. Asap putih dari ledakan peluru artileri menghiasi langit, bercampur dengan kepulan hitam dari pesawat yang mungkin tertembak. Di arah kawasan pelabuhan, terlihat tiang-tiang asap besar. Beberapa orang melihat pesawat jatuh.

Pukul 12.30: Sinyal “all clear” (bahaya telah berakhir) akhirnya berbunyi, menandai berakhirnya serangan pertama yang menggentarkan ini. Namun, kenangan akan hari itu akan terus membekas.

DAMPAK DAN KERUSAKAN

Apa Kata Redaksi

De Indische Courant dengan tegas menyimpulkan: “Wat ook het oogmerk geweest mocht zijn van den vijand, zeker is het dat bij het luchtbombardement, dat Soerabaja gisteren te doorstaan had, geen vitale deelen van de stad werden getroffen, zoodat deze aanval als mislukt is te beschouwen.” (Apapun maksud musuh, yang pasti adalah bahwa dalam pemboman udara yang dialami Soerabaja kemarin, tidak ada bagian vital kota yang terkena, sehingga serangan ini dapat dianggap gagal.)

Namun di balik pernyataan optimis tersebut, kedua surat kabar mencatat dengan jujur dampak destruktif yang meluas, terutama di kawasan pemukiman padat penduduk.

Pusat Kota dan Kawasan Komersial

Kawasan Tunjungan menjadi salah satu area yang paling parah terkena dampak. Restoran “Tip Top” dan “Het Gazellehuis” di Tunjungan hancur total. Soerabaijasch Handelsblad melaporkan bahwa bom jatuh di bagian belakang Gazellehuis, sementara restoran Tip Top yang saat itu dipenuhi pengunjung mengalami kerusakan parah. Banyak pengunjung yang memilih tidak berlindung dan menjadi korban luka-luka. Kaca-kaca dari seluruh toko di sekitar kawasan tersebut pecah berantakan berserakan di jalan.

De Indische Courant menambahkan bahwa ketika wartawan mereka datang sekitar pukul 16.00, tidak ada lagi jejak bahwa beberapa jam sebelumnya kekejaman bom telah mengamuk di sana—pekerjaan pembersihan berjalan sangat cepat.

Hotel Juliana di Embong Malang juga terkena serangan langsung, meskipun laporan lebih rinci mengenai kerusakannya tidak disebutkan secara spesifik.

Kawasan Pemukiman dan Kampung

Di kampung-kampung belakang Embong Malang, De Indische Courant melaporkan bahwa beberapa bom jatuh—satu di tempat ibadah, satu lagi di tempat bermain anak-anak—menghancurkan sekitar tiga puluh hingga empat puluh rumah. Seorang warga menceritakan bagaimana ibunya yang tua selamat karena bersembunyi di bawah tempat tidur.

Kampung Plemahan, kompleks kampung luas di belakang Hotel Brantas di Kertajaya, menjadi salah satu wilayah dengan penderitaan terberat. Di sini, puluhan rumah kampung rusak dan beberapa anak menjadi korban jiwa. Seorang penduduk dengan getir berkomentar: “En de Japs zeggen nog dat zij ons, Indonesiërs niets zouden doen!” (“Dan orang Jepang masih mengatakan bahwa mereka tidak akan berbuat apa-apa kepada kami, orang Indonesia!”). Namun komentar ini langsung ditepis oleh tetangganya: “Nonsens!” (“Omong kosong!”).

Kawasan Tegalsari menjadi saksi kerusakan terbesar pada rumah-rumah yang dihuni orang Eropa. Rumah No. 31 dan 17 terkena serangan langsung dan berubah menjadi puing-puing. Kolam renang baru Tegalsari terkena tepat di menara loncatnya, dengan platform beton bertulang jatuh menimpa sekolah Kristen di dekatnya, merusak sebagian rumah kepala sekolah. Sebuah rumah tinggal Eropa di Tegalsari No. 15 juga dilaporkan terkena bom.

Kampung Kaliasin mengalami dampak yang sangat berat. Di kawasan ini terdapat korban tewas dan luka-luka di kalangan penduduk pribumi. Foto-foto yang dimuat di koran menunjukkan kehancuran total di beberapa bagian kampung ini.

Kawasan Lainnya

Embong Malang menjadi saksi kehancuran Gedung Panti Asuhan Anak Laki-laki dan wisma di sebelahnya yang terkena serangan langsung. Bom-bom pecahan (brisant) juga jatuh di antara dua wisma lain, di sebuah area kuburan Tionghoa, dan di halaman belakang gedung NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij). Beberapa toko kecil dan fasad Pasar Tunjungan rusak berat akibat tekanan udara dari bom yang meledak di sekitarnya.

Boeboetan mengalami kerusakan dengan sebuah bom yang menciptakan kawah besar di tengah jalan. Di salah satu kampung dekat Boeboetan, sebuah rumah yang sudah rapuh akibat pemboman akhirnya runtuh total dengan suara gemuruh.

Jalan Colombo menyaksikan kekuatan destruktif sebuah bom berukuran sedang yang menciptakan kawah berdiameter tiga meter dan kedalaman beberapa meter. Dinding setengah bata di belakang rumah berlubang-lubang seperti saringan akibat serpihan bom hingga jarak sepuluh meter. Tekanan udara juga menghancurkan pintu garasi dan rumah kosong, serta menerbangkan genteng-genteng.

Peneleh, Genteng, Gemblongan, dan Priokplein juga melaporkan ledakan bom, meskipun dengan dampak yang tidak terlalu serius. Kebakaran kecil terjadi di Bandaran dan Peneleh yang berhasil segera dipadamkan.

Bom Tidak Meledak

Beberapa kawasan melaporkan adanya bom yang tidak meledak, menimbulkan bahaya laten bagi penduduk. Lokasi-lokasi tersebut meliputi:

  • Pregolan Boender
  • Jalan Tg. Perak
  • Krembanganbaru
  • Kemayoran
  • Peneleh
  • Karangmendjangan

Area-area ini langsung ditutup hingga radius 100 meter dari kawah bom untuk mencegah korban jiwa.

Teater Kranggan

Di depan Teater Kranggan, sebuah bom menciptakan kawah kolosal di tanah, menunjukkan kekuatan ledakan yang dahsyat meskipun bangunan teater itu sendiri tidak disebutkan secara spesifik dalam laporan mengenai kerusakannya.

KORBAN JIWA

Berdasarkan data resmi yang dirilis pasca-serangan, jumlah korban jiwa akibat pengeboman pertama ini adalah sebagai berikut:

KategoriJumlahKeterangan
Tewas31 orangTermasuk 5 orang Eropa
Luka Berat83 orang
Luka Ringan56 orang
Total170 orang

Wilayah Sektor XI, yang meliputi Tunjungan, Kaliasin, Baliwerti, Embong Malang, Tegalsari, dan Kampung Mergojoso, mencatat jumlah korban terbanyak. Di pos pertolongan pertama pos komando Kaliasin saja, tercatat 14 orang tewas (termasuk 4 orang Eropa) dan 51 orang luka-luka dibawa ke tempat tersebut.

KISAH-KISAH DI BALIK LEDAKAN

Lolos dari Maut di Halaman NIROM

Salah satu kisah paling dramatis terjadi di halaman gedung NIROM. Empat agen polisi yang sedang berjaga bersama seorang penyiar Indonesia berlindung di sebuah parit perlindungan sederhana ketika serangan datang. Sebuah bom jatuh tepat di salah satu rumah jaga, hanya berjarak dua hingga tiga meter dari parit tempat mereka berlindung.

Kelima orang itu terkubur hingga dada mereka oleh tanah akibat ledakan, namun secara ajaib praktis tidak terluka sama sekali. Soerabaijasch Handelsblad melaporkan bahwa butuh waktu setengah jam untuk menggali mereka. Ketika berhasil dikeluarkan, mereka seperti lumpuh karena guncangan dan tidak dapat berbicara. Dua agen harus dilarikan ke fasilitas medis, sementara penyiar tersebut mengalami luka di kepala akibat balok tempat perlindungan yang jatuh namun selamat setelah dibalut. Dua agen lainnya dipulangkan karena tidak dapat bertugas lagi.

Satu-satunya korban dalam insiden ini adalah seekor anjing yang juga ikut berlindung di parit yang sama. Anjing itu terkubur dan tidak dapat ditemukan kembali.

Gambar insiden di halaman belakang Nirom di Embong Malang.

Kisah Sais Dokar di Tunjungan

De Indische Courant mengabadikan kisah seorang sais dokar sederhana di kawasan Tunjungan. Ketika tembakan pertahanan udara mulai bergemuruh, sais tersebut dengan tenang mengingat pelajaran perlindungan sipil yang pernah ia terima. Ia melepaskan kudanya dari dokar, mengikat hewan itu dengan rapi di tiang lampu, menjauhkan kendaraannya, dan berlindung di sebuah parit kecil. Tindakan ini dianggap sebagai representasi sempurna dari ketertiban dan kedisiplinan warga dalam menghadapi bahaya.

Ketenangan di Tengah Badai

De Indische Courant juga mencatat bagaimana masyarakat dengan tertib menuju tempat-tempat perlindungan. Sebagai contoh, di salon foto “Aurora” di Tunjungan, ketika sirine mulai meraung, pimpinan segera memerintahkan staf wanita dan pengunjung untuk berlindung di tempat perlindungan berdinding beton. Setelah ledakan mereda, satu per satu meninggalkan tempat aman, namun seorang wanita tetap berbaring rata di tanah selama satu setengah jam, tidak peduli meskipun serpihan peluru melesat di atasnya. Ia memahami nasihat yang diberikan dan bertindak sesuai naluri keselamatan.

Kecerobohan yang Hampir Membawa Petaka

Meskipun secara umum ketahanan moral masyarakat patut dipuji, kedua surat kabar mencatat banyaknya kecerobohan yang terjadi, terutama di kalangan penduduk pribumi.

Soerabaijasch Handelsblad melaporkan bahwa di kawasan Goebeng, bahkan setelah sirine berbunyi, para pedagang dengan warung portabel tetap berjualan dengan tenang, dokar-dokar dan cikar-cikar tetap beroperasi, dan pekerja-pekerja pribumi justru duduk berjongkok santai sambil mengamati langit.

Situasi yang lebih mengkhawatirkan terjadi di Floresstraat, ketika sekelompok anak-anak pribumi berbaris rapi di jalan—diduga murid-murid dari suatu sekolah yang sedang dalam perjalanan pulang—tepat pada saat-saat sebelum serangan dimulai. Tindakan ini digambarkan oleh wartawan sebagai “sangat bodoh dan sangat berbahaya.”

Beruntung, seorang wanita muda petugas L.B.D. bersama seorang pemuda berusia sekitar 15 tahun dengan sigap bertindak. Tanpa mempedulikan keselamatan diri sendiri, mereka mendesak warga untuk berlindung, menyuruh dokar-dokar melepas kuda sesuai peraturan, dan menggiring orang-orang ke tempat perlindungan. Wanita yang sama kemudian membubarkan barisan anak-anak tersebut dan memastikan mereka tetap berada di tempat perlindungan.

RESPON DARURAT DAN PENANGANAN KORBAN

Pujian untuk L.B.D. dan Dinas Terkait

Kedua surat kabar memberikan pujian setinggi-tingginya kepada L.B.D. (Lucht Beschermings Dienst – Dinas Perlindungan Udara) bersama dengan S.M.O. (Dinas Medis Sipil) dan korps polisi setempat.

De Indische Courant menulis: “Het zij ook hier getuigd: gisteren heeft het dienstplichtige front zich, meer dan ooit, zijn paraatheid schitterend getoond.” (Biarlah juga tercatat di sini: kemarin, front wajib militer telah menunjukkan kesiapsiagaan mereka dengan cemerlang, lebih dari sebelumnya.)

Pos komando utama dan pos-pos sektor bekerja dengan ketenangan dan ketepatan tinggi. Laporan-laporan diterima dengan tenang dan segera diteruskan ke instansi terkait. Dinas penyelamatan, medis, pembersihan, para pesuruh, operator telepon, dan regu pemadam kebakaran—semuanya bekerja dengan sangat baik dan berani. Pria, wanita, pemuda, dan pemudi terlihat sibuk di lokasi-lokasi terdampak, membantu para korban dan membersihkan puing-puing.

Pujian Dokter untuk Bantuan Medis

Seorang dokter dari C.B.Z. (Centrale Burgelijke Ziekenhuis – Rumah Sakit Sipil Pusat) memberikan kesaksiannya kepada De Indische Courant. Ia memuji kinerja L.B.D. yang dinilainya “Uitstekend” (luar biasa). Kurang dari seperempat jam setelah serangan, ambulans pertama telah tiba di rumah sakit membawa korban luka dari kampung-kampung.

Dokter tersebut juga memberikan nasihat penting berdasarkan pengamatannya: “De patiënten, die ik behandelde hadden verwondingen boven de knie. Vermoedelijk stonden zij alle rechtop zonder dekking…” (Pasien-pasien yang saya rawat memiliki luka-luka di atas lutut. Kemungkinan mereka semua berdiri tegak tanpa perlindungan…) Ia menegaskan kembali pentingnya pesan dasar perlindungan sipil: berbaringlah rata di tanah dan cari perlindungan.

Transportasi Korban

Transportasi korban luka berlangsung lancar dan cepat. Berbagai jenis kendaraan dikerahkan, termasuk:

  • Taksi
  • Truk
  • Ambulans
  • Mobil pribadi
  • Kereta samping sepeda motor

Rumah sakit darurat berhasil menangani 75 orang luka-luka dalam waktu sangat singkat, sementara sisanya terutama dibawa ke C.B.Z. Gedung C.B.Z. yang baru belum perlu digunakan, namun seluruh personel tetap siaga di pos masing-masing.

Kendala Identifikasi Korban

Beberapa korban tewas dan luka-luka tidak dapat segera diidentifikasi karena tidak dilengkapi dengan tanda pengenal (KTP). Hal ini mendorong pihak berwenang untuk kembali mengimbau masyarakat agar segera mendapatkan tanda pengenal, meskipun dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun.

ANALISIS DAN CATATAN

Sasaran Strategis Jepang

Menurut analisis yang dimuat di Soerabaijasch Handelsblad, banyaknya bom yang jatuh di dan sekitar Tegalsari serta Kampung Mergojoso bukanlah kebetulan atau hasil pemboman sembarangan. Di kawasan tersebut terdapat dua sasaran yang sangat penting baik bagi perlindungan udara maupun organisasi front sipil, meskipun koran tersebut tidak menyebutkan secara spesifik untuk alasan keamanan.

De Indische Courant juga mencatat bahwa meskipun Jepang mengincar bagian vital kota, sebagian besar bom justru jatuh di kampung-kampung.

Kerentanan yang Terungkap

Kedua laporan menyoroti beberapa kelemahan dalam sistem pertahanan dan kewaspadaan sipil:

1. Titik Orientasi yang Berbahaya: Soerabaijasch Handelsblad menyoroti bahwa kolam renang di Surabaya, ketika dilihat dari ketinggian, memantulkan warna biru-hijau cerah yang sangat mencolok. Hal ini menjadi titik orientasi yang sempurna bagi pilot musuh. Redaksi mengusulkan agar air di kolam-kolam tersebut segera dikosongkan dan bak-bak yang kosong dikamuflase dengan baik.

2. Kecerobohan Masyarakat: Kedua surat kabar menyoroti masih banyaknya warga, terutama penduduk pribumi, yang mengabaikan peringatan dan peraturan perlindungan sipil. Perilaku ini dianggap sangat membahayakan keselamatan jiwa.

3. Siaran Radio yang Ceroboh: Soerabaijasch Handelsblad mencatat dengan nada sinis bagaimana NIROM dalam siaran beritanya pukul 10 malam pada hari yang sama, dengan penuh kepuasan diri, mengumumkan bahwa serangan bom itu pasti ditujukan untuk cabangnya di Embong Malang. Lebih parah lagi, siaran tersebut—yang dapat didengar dengan baik oleh musuh—memberikan informasi detail mengenai lokasi jatuhnya bom, secara tidak langsung memberikan “kontrol gratis” kepada Jepang atas hasil serangan mereka.

KESIMPULAN: “ONGESCHOKT!” – TIDAK GOYAH!

Serangan udara pertama atas Surabaya pada 3 Februari 1942 menjadi ujian berat bagi ketahanan moral dan fisik masyarakat kota. Dengan 31 korban tewas dan 139 luka-luka, hari itu meninggalkan duka mendalam, terutama bagi keluarga yang kehilangan anggota tercinta.

Namun di tengah duka dan kehancuran, muncul cahaya terang: solidaritas dan keberanian warga biasa, dedikasi tanpa pamrih para petugas L.B.D. dan S.M.O., serta ketahanan moral yang tidak goyah meskipun baru pertama kali menghadapi teror dari langit.

De Indische Courant dengan bangga menyimpulkan: “Wij weten thans zeker, dat nu deze eerste slag zoo kloek door de burgerij is opgevangen, ons moreel niet gebroken kan worden.” (Kita sekarang tahu dengan pasti, bahwa setelah pukulan pertama ini ditanggung dengan begitu gagah berani oleh masyarakat, moral kita tidak dapat dipatahkan.)

Soerabaijasch Handelsblad menambahkan: “Prestatie L.B.D. Surabaya en van alle organisaties waarin de geheele bevolking zoo prachtig heeft samengewerkt blijven het groote, mooie lichtpunt in het drama, dat zich gisteren aan Soerabaja voltrok.” (Prestasi L.B.D. Surabaya dan semua organisasi di mana seluruh penduduk telah bekerja sama dengan begitu indah, tetap menjadi titik terang yang besar dan indah dalam drama yang terjadi kemarin di Surabaya.)

Satu pelajaran berharga yang dapat dipetik dari peristiwa ini adalah pentingnya kewaspadaan dan kepatuhan pada prosedur keselamatan, karena dalam perang modern, kecerobohan sekecil apa pun dapat berakibat fatal.

Serangan ini menjadi awal dari serangkaian serangan udara yang akhirnya berpuncak pada jatuhnya Hindia Belanda ke tangan Jepang sebulan kemudian, tepatnya pada 8 Maret 1942 dengan ditandatanganinya Kapitulasi Kalijati. Namun, ingatan tentang bagaimana warga Surabaya—dari berbagai lapisan masyarakat—menghadapi “pembaptisan api” pertama mereka dengan ketenangan, keberanian, dan solidaritas akan terus terukir dalam sejarah kota Pahlawan.

Surabaya telah diuji. Surabaya tidak goyah.

Laporan ini disusun berdasarkan terjemahan dan analisis dari arsip harian De Indische Courant dan Soerabaijasch Handelsblad edisi 4 Februari 1942 serta berbagai sumber sejarah terkait Perang Pasifik di Hindia Belanda.

Foto-Foto Koleksi NIOD :

Dibom oleh Jepang. Soerabaja, Jawa………Bom yang dijatuhkan oleh pesawat Jepang selama serangan pada tanggal 3 Februari menyebabkan kerusakan ini pada sebuah rumah di permukiman penduduk asli Soerabaja, Jawa, pangkalan angkatan laut penting di Hindia Belanda. Ini adalah bagian dari gempuran yang dilakukan Jepang terhadap kota tersebut sebelum melakukan invasi yang berhasil.
Sebelum Hindia Belanda jatuh. Surabaya, Jawa ………… Foto ini adalah salah satu dari serangkaian foto yang baru saja sampai di Amerika Serikat, yang menunjukkan hari-hari terakhir Hindia Belanda sebelum Jepang masuk. Para pekerja A.R.P. terlihat menggali di sekitar gerbong yang tergelincir di jalur kereta api Surabaya, Jawa, untuk mencari kemungkinan korban setelah serangan udara Jepang pada tanggal 3 Februari.

Postingan Terkait :

Detik-Detik Jatuhnya Kota Surabaya ke Tangan Jepang

Hari-Hari Terakhir Jatuhnya Lumajang ke Tangan Jepang

Catatan Berbagai Peristiwa Hingga Jatuhnya Kota Malang ke Jepang