Sejak dibentuk Dewan Kota (Gemeenteraad) pada tahun 1918, Kota Pasuruan harus menunggu 10 tahun untuk mempunyai seorang Walikota (Burgemeester), yaitu pada tahun 1928. Hal ini ditetapkan berdasarkan Staatsblad No. 411 tahun 1928, bersama dengan 9 kota lainnya : Tegal, Pekalongan, Kediri, Blitar, Probolinggo, Mojokerto, Madiun, Magelang dan Salatiga. Selama kurun waktu itu (1918-1928), Dewan Kota Pasuruan dipimpin oleh Asisten Residen Pasuruan, yang membawahi sekaligus wilayah Kota dan Kabupaten Pasuruan.

1. H. E. Boissevain (1928-1934)

Gelar dan nama lengkapnya : Mr. Henri Edmund Boissevain, bukanlah seorang Belanda Totok, ia seorang Indo Eropa yang lahir di Blora, 2 April 1892. Putra dari pasangan Willem Frederik Lamoraal Boissevain (Residen Priangan 1907-1911) dan Emilie Louise Court. Ia menikah dengan Susanna Wilhelmina Hoffmann di Den Haag pada 31 Desember 1920. Ia menempuh sekolah menengah atas di Gymnasiun Harleem dan kuliah ilmu hukum di Utrech Belanda. Bertugas selama beberapa tahun di Angkatan Bersenjata selama mobilisasi militer. Menerima gelar doktornya dalam ilmu hukum Mr. (Meester in de rechten) pada Februari 1921.

Rumah keluarga Boissevain.
Boissevain kecli (kanan) dengan adiknya.

Foto-foto lama Boissevain muda, ketika bergabung dengan dinas Angkatan Bersenjata selama mobilisasi militer.

Boissevain muda dengan seragam militer.
Boissevain muda dengan seragam militer.

Catatan Karir :

Pada tahun 1921, Boissevain ditempatkan di bawah pengawasan Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk tugas-tugas perkantoran, termasuk pendaftaran untuk Pengadian Tinggi dan pengadilan-pengadilan Eropa di Semarang. Di tahun 1923, beliau diangkat sebagai Wakil Panitera Luar Biasa Dewan Kehakiman, di mana beliau juga menjabat sebagai Wakil Panitera Pertama Dewan Kehakiman, juga di Semarang.

Catatan Karir H. E. Boissevain di nationaalarchief.nl

Pada bulan Oktober 1923, beliau diangkat sebagai Penjabat (waarneming) Ketua Pengadilan Negeri (Landraad) di Bangil. Dan baru pada tahun 1926, beliau diangkat secara resmi sebagai Ketua Pengadilan Negeri di Bangil. Selama dinas di Bangil ia menetap di Lawang, nampaknya jalur KA SS jurusan Lawang-Bangil PP adalah tranportasi favoritnya. Di Lawang dia menjabat sebagai ketua cabang I. E. V. (Indo-Europeesch Verbond), sebuah organisasi massa dan politik yang menghimpun kaum Indo Eropa. Sementara itu, ia juga menjabat sebagai anggota Dewan Daerah Pasuruan.

Boissevain dengan baju toga selama dinas di Pengadilan Negeri.

Pada tanggal 30 Oktober 1928, ia ditetapkan sebagai Walikota Pasuruan, suatu kota yang sudah dikenalnya dengan baik. Kota Bangil dan kota Pasuruan hanya berjarak sekitar 15 Km. Ia disumpah oleh Gubernur Jawa Timur pada 7 November 1928. Kemudian pada tanggal 13 November, ia dilantik oleh Residen Pasuruan, C. H. H. Snell dan serah terima jabatan sebagai Kepala Dewan Kota Pasuruan dari pejabat lama Asisten Residen Pasuruan, V. Lafontaine.

Boissevain dalam seragam dinas walikota.

Kontrak dengan Ir. Thomas Karsten

Pada tahun 1929, dengan persetujuan dewan ia menandatangani kontrak dengan perencana tata kota terkenal, Ir. Thomas Karsten. Dengan itu ia akan mendapatkan konsultasi perencanaan tata kota selama dua tahun dengan tarif ƒ 2.200 per tahun. Wali Kota telah menyampaikan daftar panjang topik yang ingin ia konsultasikan. Beliau menyebutkan antara lain : revisi umum Peraturan Bangunan Kota, penetapan batas bangunan di jalan-jalan dalam kota sehubungan dengan perbaikan kampung yang akan dilakukan; rencana pengembangan lahan yang dibeli oleh pemerintah kota; pengembangan kawasan industri; drainase Kebonsari, dll.  Kontrak tersebut mewajibkan perencana kota untuk berada di Pasuruan setidaknya tiga hari dalam satu kuartal dan memberikan semua saran perencanaan kota yang diminta, baik secara lisan maupun tertulis.

Catatan Prestasi :

Langkah-langkahnya yang cepat dalam membangun kota Pasuruan, dalam periode yang relatif singkat telah menghasilkan banyak karya signifikan, diantaranya :

  • Membeli Marine Hotel/Hotel Morbeck dan mengalih fungsikan sebagian gedungnya sebagai Balaikota (gemeentehuis).
  • Perbaikan Pasar Besar, alun-alun depan stasiun (Stationsplein) dan pasar ternak.
  • Perbaikan jalan-jalan utama, termasuk jalan-jalan kampung.
  • Membangun Taman Kota.
  • Membangun Stadion/Sportpark.
  • Mendirikan Sekolah Kejuruan (Ambachtsschool) pertama di Kota Pasuruan.
  • Perbaikan Rumah Sakit.
  • Memperbaiki sistem drainage dan menimbun kolam/tambak tempat sarang nyamuk malaria.
  • dll

Ia sangat memperhatikan pentingnya sanitasi lingkungan dan masalah kesehatan masyarakat. Langkah-langkahnya dalam mengatur tata cara penyembelihan daging ternak, ditentang oleh para penjual daging. Boikot yang dilakukan oleh para penjual daging, diatasinya dengan cara mengimpor daging dari Surabaya, meskipun dengan resiko kerugian yang tinggi. Pada akhirnya para pedagang pun menyerah, hingga mau memproses daging sesuai dengan undang-undang kesehatan yang berlaku. Kebijakan penting lainnya adalah melarang para rentenir masuk kedalam area pasar, serta mendirikan Bank Perkreditan Pasar yang memberikan pinjaman dengan bunga rendah.

Selama tinggal di kota Pasuruan, keluarga Boissevain menempati rumah dinas atau rumah yang disewa untuk Walikota. Lokasinya berada di jalan Raya Pasuruan – Probolinggo. Belum diketahui pasti alamatnya, kuat dugaan adalah rumah yang sekarang menjadi Markas KODIM 0819 di Jalan Veteran Kota Pasuruan.

Rumah Dinas Walikota Pasuruan di jalan raya Pasuruan – Probolinggo.

Atas-jasanya dalam membangun kota Pasuruan, Dewan Kota Pasuruan menetapkan nama Taman Kota menjadi “Burgemeester Boissevain Park” di tahun 1934.

Pada tahun 1934, ia dipindah menjadi Walikota Cirebon, namun tidak lama kemudian per 1 Mei 1935, ia dipercaya untuk memegang kota yang lebih besar, yakni di Semarang dengan jabatan yang sama.

Sederet prestasi lainnya adalah : Ketua Komisi Bantuan untuk para pengangguran, Kaum Miskin, Komisi Sekolah, Komisi Ahli untuk Regulasi pabrik es, Komisi Pemerintah untuk pembangunan perkotaan, dan berbagai asosiasi olahraga.

Pada tahun 1937, ia mengunjungi Mesir, Italia, Eropa Tengah, dan khususnya mempelajari Kota Keulen.

Sebagai pribadi, ia sangat tertarik dengan mebel dan porselen kuno, gemar berolahraga tenis dan golf, serta bermain cello. Setelah Perang Dunia II, Boissevain dan keluarga pindah ke Den Haag Belanda, namun akhir hayatnya tercatat meninggal di Malaga, Spanyol pada tanggal 14 Desember 1966.

2. W. C. Krijgsman (1934-1936)

Willem Cornelis Krijgsman lahir di Messter Cornelis (Batavia), pada tanggal 21 Oktober 1893. Putra dari Wilhelmus Yacobus dan ibunya bernama Carolina Isabella

(dalam proses penyusunan)

Sumber : dirangkum dari berbagai artikel koran lama di delpher.nl, nationaalarchief.nl dan biografischportaal.nl

Postingan Terkait :

Hilangnya Frans Van Mourik Yang Misterius – Walikota Pasuruan Terakhir Era Kolonial