Gambar ilustrasi.

Penerbangan Naas di Bulan Oktober 1941

Batavia, 13 Oktober 1941. Matahari bersinar terik di atas lapangan terbang Kemayoran. Sebuah pesawat Lockheed Lodestar bersiap lepas landas menuju Bandung. Di dalamnya duduk lima orang, termasuk seorang pria berpakaian militer yang tak lain adalah panglima tertinggi tentara Hindia Belanda, Letnan Jenderal Gerardus Johannes Berenschot.

Tak ada yang tahu bahwa beberapa menit kemudian, pesawat itu akan jatuh dan mengubah segalanya. Pesawat mengudara, lalu mesinnya terbatuk-batuk dan tiba-tiba mati. Kemudian jatuh mengguncang bumi.

Spesifikasi pesawat Lockheed Lodestar

Dalam sekejap, Kampung Kemayoran—dengan rumah-rumah bambu dan kayunya—berubah menjadi lautan api. Asap hitam membumbung tinggi. Jeritan memekakkan telinga. Enam belas warga pribumi tewas seketika di bawah puing rumah mereka sendiri. Lima penumpang pesawat, termasuk sang jenderal, tak ada yang selamat.

Indonesia, yang saat itu masih bernama Hindia Belanda, kehilangan panglima perangnya hanya dua bulan sebelum Jepang mendarat di Jawa.

Anak Solok yang Menjadi Jenderal

Gerardus Johannes Berenschot lahir di Solok, Sumatera Barat, pada 24 Juli 1887. Ayahnya adalah seorang perwira KNIL. Ia tumbuh sebagai “anak Hindia” sejati—mengenal tanah airnya dari ujung Sumatera hingga ujung Jawa, memahami bangsanya, dan mencintai negeri tempatnya dilahirkan.

Gerardus Johannes Berenschot, 24 Juli 1887 – 13 Oktober 1941.

Kariernya cemerlang. Ia pernah bertempur di Aceh antara tahun 1906-1914, di mana ia mendapatkan “Eervolle Vermelding” (Penghargaan Khusus), cikal bakal tanda kehormatan keberanian sebelum adanya Militaire Willemsorde. Pada tahun 1934, ia dipercaya menjadi Kepala Staf Umum KNIL, dan pada 1939 diangkat sebagai Panglima Tentara Hindia Belanda—posisi tertinggi di angkatan perang kolonial.

Di mata anak buahnya, Berenschot bukan sekadar atasan. Ia adalah sosok yang dicintai: cakap, berintegritas, ramah, dan memiliki jiwa kepemimpinan alami. Seorang perwira sejati.

Pertemuan Terakhir di Batavia

Hari itu, Senin, 13 Oktober 1941, Berenschot baru saja menyelesaikan pertemuan penting dengan Marsekal Udara Sir Robert Brooke Popham, Panglima Tertinggi Inggris di Timur Jauh. Dua negara bersekutu itu membahas kerja sama militer menghadapi ancaman yang sama: Jepang. Samudra Pasifik sedang bergolak panas. Perang dunia nyaris tiba di depan pintu Nusantara.

Wing-Commander T. L. N. Watkins dari Royal Air Force ditunjuk sebagai perwira penghubung untuk menemani Berenschot kembali ke Bandung (Andir). Ia duduk di kursi pesawat bersama tiga awak ML/KNIL (Penerbangan Militer): Kapten Penerbang J. C. F. Knapp sebagai pilot, Sersan Montir F. van Kampen, dan Brigadir Radio-telegrafis E. H. F. de Haan.

Pukul 13.00 waktu setempat, pesawat Lockheed Lodestar itu lepas landas dari landasan Kemayoran. Namun baru beberapa puluh meter di udara, kedua mesinnya mati bersamaan.

Pesawat oleng dan tenaga pesawat hilang. Dalam hitungan detik, hidung pesawat menukam tajam ke bawah. Benturan keras di atas perkampungan padat penduduk, menciptakan ledakan dan api besar yang membara,

Inferno di Kemayoran

Yang terjadi kemudian adalah kengerian yang tak terlukiskan.

Pesawat jatuh tepat di tengah Kampung Kemayoran. Rumah-rumah pribumi yang terbuat dari bambu dan kayu langsung menyala seperti obor. Api merambat dengan cepat dari satu atap ke atap lainnya. Dalam sekejap, seluruh area berubah menjadi tungku raksasa.

Tangki bahan bakar pesawat robek. Bensin tumpah dan mempercepat kobaran api. Ketika tangki kedua meledak, lidah api menyembur dahsyat, menyapu apa pun yang tersisa.

Di peron Stasiun Kemayoran yang hanya beberapa puluh meter dari lokasi jatuhnya pesawat, orang-orang berhamburan. Ibu-ibu menjerit mencari anaknya. Para pedagang kelontong meninggalkan dagangannya. Seorang saksi mata yang saat itu masih berusia 11 tahun, tinggal di Gang Sampi tak jauh dari sana, kelak menulis:

“Kobaran api, kepanikan, dan kengerian di kampung-kampung… selalu akan terhubung dengan musibah ini.”

Rumah batu milik keluarganya menjadi pusat komunikasi darurat karena memiliki telefon—barang langka masa itu. Para perwira dan pejabat sipil berdatangan, berusaha menghubungi atasan, melaporkan apa yang baru saja terjadi.

Namun tak ada yang bisa ditolong lagi.

Tim pemadam kebakaran tiba relatif cepat, tetapi mereka tak berdaya menghadapi amukan si jago merah. Personel militer dari garnisun terdekat berdatangan. Ambulans dari rumah sakit datang, tetapi hanya bisa berhenti dan mematikan mesin. Tak ada korban selamat untuk diangkut.

Berjam-jam kemudian, ketika api akhirnya padam, tim evakuasi mulai menyisir puing-puing yang masih mengepulkan asap. Mereka menemukan jenazah berserakan: 16 warga kampung yang tak sempat menyelamatkan diri, dan lima korban dari pesawat—termasuk seorang jenderal yang baru beberapa jam lalu masih bercakap-cakap tentang strategi perang.

“Chapelle Ardente” di Bandung

Jenazah Wing-Commander Watkins segera diterbangkan ke Singapura. Sedangkan keempat korban Belanda dibawa ke Bandung, kota markas besar militer Hindia Belanda.

Di aula Departemen Perang (DVO)—sebuah gedung megah di Jalan Borneo yang berbatasan dengan Taman Insulinde—disiapkan ruang penghormatan terakhir: chapelle ardente. Empat peti mati ditempatkan bersanding, dikelilingi lautan bunga. Para perwira KNIL bergiliran berjaga, memberi penghormatan terakhir bagi panglima mereka.

Ribuan warga Bandung berduyun-duyun datang. Wajah-wajah sendu, tangis tertahan, dan doa-doa yang dipanjatkan dalam hening. Seorang jenderal yang mereka kenal sebagai pribadi ramah dan rendah hati kini terbaring kaku, terbungkus kain merah-putih-biru.

Di atas peti Berenschot, orang-orang melihat kolbak—topi bulu beruang khas jenderal—diletakkan di atas bendera. Pedang dan tanda kehormatan berkilau di sampingnya. Karangan bunga dari istrinya menjadi saksi bisu cinta yang tak sempat diungkapkan.

Pemakaman Militer Terbesar dalam Sejarah Hindia

Dua hari kemudian, Rabu 15 Oktober 1941, Bandung menjadi panggung duka yang tak pernah dilupakan siapa pun.

Iring-iringan pemakaman militer terbesar dalam sejarah Hindia Belanda bergerak lambat dari DVO menuju Pemakaman Eropa Baru di Jalan Pandoe. Jarak lima kilometer ditempuh dalam kecepatan baris-berbaris lambat, diiringi musik militer yang membawakan melodi-melodi muram.

Di depan, empat mobil jenazah gelap berjalan beriringan. Masing-masing dikawal empat perwira setingkat korban—yang disebut slippendragers (pembawa ujung kain kafan). Untuk mobil Jenderal Berenschot, empat jenderal mayor berseragam besar dengan kolbak di kepala berjalan kaki sepanjang rute. Sebuah pemandangan yang oleh banyak orang disebut “unik dan tak terlupakan.”

Lebih dari seratus perwira yang tidak bertugas ikut dalam iringan, mengenakan atila—seragam upacara gelap dengan bulu-bulu putih di topi, sarung tangan putih, pedang jalan, dan tanda jasa lengkap. Mereka berbaris dalam formasi empat, tegap dan khidmat.

Pasukan infanteri berseragam hijau dengan topi bambu ikut mengawal, senjata terayun seirama langkah. Para perwira lapangan mengenakan pita duka hitam di lengan atas.

Sepanjang rute, ribuan warga Bandung berjejal di pinggir jalan, membisu. Di balkon-balkon rumah Eropa, para nyonya dan anak-anak melambai dengan saputangan putih. Di emperan toko Tionghoa, para saudagar menundukkan kepala.

Tak hanya tentara KNIL dan Angkatan Laut yang ikut. Detasemen marinir dan pelaut dari Koninklijke Marine juga hadir, bersama korps musik militer mereka. Seluruh garnisun Bandung—terbesar di Hindia—turun ke jalan.

Di barisan paling depan, berjalan rombongan pejabat tertinggi Hindia Belanda: Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, Panglima Armada Laksamana Madya C. E. L. Helfrich, dan Pejabat Sementara Panglima Jenderal Mayor H. L. Maurer. Tak ada Jenderal Ter Poorten—ia sedang di Manila untuk perundingan rahasia dengan Amerika, dan tak dipanggil pulang.

2 Raja Jawa Hadir

Yang membuat iringan ini semakin megah adalah kehadiran dua orang Raja Jawa : Susuhunan Paku Buwono XI dari Surakarta dan Pangeran Soerjadilogo dari Paku Alam, Yogyakarta. Keduanya mengenakan seragam militer gelap dengan kerah emas tinggi, diikuti pembawa payung kebesaran tradisional.

Di pintu masuk pemakaman, regu tembak yang berdiri di kedua sisi jalan mengarahkan senapan ke langit. “Salvo vuur – hoog – aan – vuur!” Perintah lantang memecah keheningan.

Tembakan salvo pertama bergema. Yang kedua, ketiga, keempat—untuk setiap peti yang lewat. Suara tembakan yang tajam dan melengking itu, di tengah kesunyian yang mencekam, membuat bulu kuduk siapa pun merinding. Tembakan yang sama akan diulangi saat peti-peti diturunkan ke liang lahat.

Di liang lahat, para perwita melakukan upacara keagamaan. Pendeta lapangan mengucapkan kata-kata penghiburan. Karangan bunga bertumpuk-tumpuk. Untuk Berenschot, karangan dari istrinya—yang tak hadir—menjadi pusat perhatian.

Sang istri, yang tetap tinggal di kediaman dinas yang disebut “istana” di samping DVO, mengirimkan pesan yang dibacakan oleh pendeta lapangan:

“Katakan kepada mereka, yang sebentar lagi mungkin akan menghadapi masa yang jauh lebih sulit, bahwa saya akan menerima ini dengan rendah hati dari tangan Tuhan, dan bahwa saya berharap dapat melaksanakan tugas terberat ini, yang dapat dibebankan kepada seorang istri prajurit, dengan patuh, seperti yang suami saya harapkan dari saya.”

Investigasi dan Misteri di Balik Tragedi

Segera setelah kecelakaan, sebuah komisi pakar penerbangan dibentuk. Mereka bekerja cepat. Hasilnya: penyebab ganda. Gangguan teknis dan kesalahan manusia.

Pesawat Lockheed Lodestar itu, menurut buku Dr. P.C. Boer yang terbit tahun 1987, memiliki masalah pada “end seal ring“—bantalan perunggu kecil yang hancur secara bertahap dan menyebabkan suplai oli ke mesin terputus. Sehari sebelum kecelakaan, pesawat telah menjalani uji terbang dan dinyatakan aman. Pagi itu, pemeriksaan saringan oli tak menunjukkan adanya serbuk perunggu.

Namun saat lepas landas, kedua mesin mati bersamaan. Kapten Knapp, pilot berpengalaman, tak punya cukup waktu dan ketinggian untuk menyelamatkan pesawat.

Seperti biasa dalam tragedi besar yang menimpa tokoh penting—apalagi di masa perang—muncul desas-desus sabotase. Orang-orang berbisik di pasar-pasar, di barak-barak, di klub-klub Eropa. Apakah ini ulah intel Jepang? Atau mungkin kesalahan fatal yang ditutup-tutupi?

Namun berkat investigasi yang transparan dan kesimpulan yang masuk akal, desas-desus itu mereda. Peristiwa dramatis berikutnya—pecahnya Perang Pasifik—segera menenggelamkan semua gosip tentang tragedi Kemayoran.

Adegan Penutup Hindia Belanda

C. A. Heshusius, penulis artikel ini dan saksi mata yang saat itu masih letnan muda, menulis setengah abad kemudian:

“Melihat lagi foto-foto dari hari kegemparan saat kecelakaan ini, kami tidak dapat mengelak dari gagasan bahwa peristiwa ini sebenarnya adalah adegan penutup dari panggung Hindia kita sebelum perang.”

Ia benar.

Dua bulan setelah tragedi itu, Jepang mendarat di Jawa. Perang Pasifik meletus. Hindia Belanda runtuh dalam hitungan minggu. Ribuan tentara KNIL—termasuk banyak yang ikut dalam iring-iringan pemakaman itu—tewas di medan tempur atau menghabiskan tahun-tahun berikutnya di kamp tawanan Jepang.

Berenschot mungkin beruntung, karena ia tak harus menyaksikan kekalahan yang sudah di depan mata. Ia tak harus menyerahkan pedangnya pada Jenderal Imamura, atau tidak meregang nyawa di kamp tawanan atau mati di ujung bayonet.

Ia pergi lebih dulu, dengan hormat, diiringi tembakan salvo dan air mata ribuan orang.

Nasib Makam Sang Jenderal

Setengah abad kemudian, pada tahun 1991, Heshusius kembali ke Bandung. Ia mengunjungi pemakaman tua Pandoe, tempat Berenschot dan tiga rekannya dimakamkan. Di sampingnya, hanya puluhan meter, telah berdiri taman kehormatan Pandu yang dikelola Yayasan Makam Perang Belanda—rapi, terawat, dan penuh hormat.

Namun makam Berenschot? Kontras sekali.

Foto makam tahun 1941.
Foto makam tahun 1941.
Kondisi makam pada tahun 1990-an,

Hampir tak terawat. Semak belukar tumbuh di sana-sini. Pelat nama kuningan telah lama dicuri. Makam-makam baru yang ditambahkan secara kacau dalam beberapa dekade mengaburkan tata letak asli. Tiga makam personel KNIL lainnya bahkan sulit ditemukan.

Ada usulan untuk memindahkan makam Berenschot ke taman kehormatan Pandu. Namun muncul hambatan formal: menurut statuta yayasan, Berenschot dan tiga lainnya tewas sebelum perang resmi dimulai, sehingga tak dianggap sebagai “korban perang.” Mereka tak berhak atas tempat di taman kehormatan.

Logika administrasi yang dingin, di hadapan sejarah yang membara.

Setelah proses korespondensi dan administrasi yang panjang, makam Berenschot akhirnya dapat dipindahkan pada tanggal 4 Mei 1992 ke Ereveld Pandu di Bandung. Lokasi makam : blok: V nomor: 501-AH.

Sebuah Kebetulan Sejarah

Ada satu fakta menarik yang tak bisa diabaikan.

Tahun 1916, Letnan Jenderal J. P. Michielsen tewas dalam kecelakaan pesawat—juga di Hindia Belanda. Penerbangnya selamat meski luka parah. Penerbang itu bernama Letnan Satu H. ter Poorten.

Dua puluh lima tahun kemudian, di tempat yang sama, kecelakaan pesawat kembali merenggut nyawa seorang panglima tentara. Dan kali ini, Letnan Jenderal Ter Poorten-lah yang dipanggil untuk menggantikan Berenschot.

Sebuah coincidentie yang oleh Heshusius disebut “sangat menarik.” Mungkin terlalu kebetulan. Atau mungkin ini cara takdir berbicara.

Epilog: Dalam Hening Sejarah

Kini, lebih dari 80 tahun setelah tragedi itu, Kampung Kemayoran telah berubah. Bandara Kemayoran tak lagi beroperasi. Stasiun Kemayoran menjadi kenangan. Rumah-rumah bambu telah digantikan bangunan beton.

Namun cerita ini tetap hidup—dalam foto-foto buram d’Oriënt, dalam catatan-catatan tua para saksi mata, dalam arsip-arsip militer yang berdebu.

Seorang jenderal, lahir di Solok, tewas di Kemayoran. Seorang anak Hindia yang mencintai negerinya, pulang ke tanah dalam kobaran api.

Dan di atas makamnya yang kini nyaris terlupa, bunga oranye pernah diletakkan—sebagai tanda bahwa sejarah tak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu untuk dikisahkan kembali.

Lokasi makam yang baru di Ereveld Pandoe Bandung di blok : V nomor : 501-AH.

Sumber : Artikel tulisan C.A. Heshusius di www.archieven.nl

Postingan Terkait :

Tragedi Kereta Api di Sengon Pasuruan

Peran Bandara Singosari Malang pada Kancah Perang Dunia II

Bandara Rahasia Pemerintah Hindia Belanda di Pasirian Lumajang