A. M. V. J.

Sejak awal April 1932 telah santer terdengar, bahwa Dewan Kota Malang secara prinsip telah menyetujui pendirian “Kamp untuk para Pengangguran” (werkloozenkamp). Lokasi yang diusulkan adalah di lahan lintasan balap tua (saat ini komplek POLTEKKES di Jalan Besar Ijen Malang). Ini berdasarkan usulan dari Dr. J. Eijkman, ketua dari A.M.V.J. (Amsterdamsche Maatschappij voor Jonge Mannen), sebuah yayasan kepemudaan yang berpusat di Amsterdam Belanda. Rencananya adalah akan menyediakan pemukiman sementara dari bambu, bagi para pengangguran mantan pegawai gula yang dipecat.

A.M.V.J. dengan bantuan pemerintah dan berbagai badan pemerintah lainnya, telah mengorganisir suatu jenis bantuan khusus kepada para pengangguran. Diantaranya menyediakan tanah dan perumahan di lahan pertanian yang ditinggalkan, untuk menanam tanaman pangan yang dapat mereka konsumsi sendiri. Tujuannya adalah untuk memberi lapangan kerja yang produktif, yang pada saat ini mungkin tidak dapat dicapai dengan baik dan rasional melalui cara lain.

Desain Desa Taman

Setelah berbagai diskusi dan survey, akhirnya itu diputuskan untuk membeli sebidang tanah seluas 5 HA di Kawistraat, namun pengembangannya akan dilakukan sedemikian rupa. Rencananya adalah untuk membangun 100 unit (jumlah terbanyak yang diijinkan) rumah sederhana diatas lahan pekarangan seluas @ 500 M2. Sehingga tersedia ruang yang cukup untuk berkebun dan secara bertahap dapat membentuk sebuah “Tuindorp” atau “Desa Taman”. Sebelumnya juga ada pilihan di area selatan kota, namun dianggap kurang mendukung rencana pembangunan tersebut.

Desain kawasan dan rumah dirancang oleh Arsitek terkenal, Ir. Thomas Karsten, penasehat tata kota Malang. Pada desain awal akan dibangun sebanyak 56 rumah, yang dilengkapi rumah/gedung pertemuan (Clubhouse) dan juga lapangan olah raga.

Harga sewa rumah-rumah ini nantinya sangat rendah, sementara dengan semua fasilitas yang disediakan, memungkinkan mereka untuk bertahan hidup dengan sedikit uang. Tinggal di Desa Taman tidak hanya menawarkan keuntungan besar karena lebih dekat dengan kota. Namun juga jika lapangan kerja muncul, mereka dapat menerima pekerjaan tanpa biaya besar bagi diri mereka sendiri atau pemberi kerja. Laporan dari Eropa menunjukkan bahwa tidak ada peluang untuk menemukan pekerjaan di sana. Sementara iklim di Eropa berarti biaya hidup yang lebih mahal. Yayasan ini secara otomatis juga akan bekerja sebagai bursa tenaga kerja. Melalui organisasinya, yayasan ini akan bekerja lebih intensif dan lebih cepat dibandingkan dengan pencarian individu, baik untuk pekerjaan tetap maupun sementara.

Pembangunan 56 rumah dan clubhouse, serta lapangan olah raga berukuran kurang lebih 90×60 M itupun segera dimulai. Situs ini terletak di ujung perpanjangan (terusan) Kawistraat, di sebelah barat rel kereta api/lori “PG Kebonagoeng”. Sebuah akses jalan akan menghubungkan pemukiman dengan Idjen Boulevard. Jika anda memasuki “Desa Taman” dari sisi ini, pertama-tama anda “berdiri” di lapangan olah raga. Di tiga sisinya dikelilingi oleh Clubhouse dan rumah-rumah. Rencananya adalah untuk membangun 23 unit dari 56 rumah di petak besar (kavling minimal 500 M2). 25 unit di petak kecil (kavling minimal 250 M2) dan 8 unit di petak besar dan kecil tergantung permintaan. Seluruh rencana konstruksi sejalan dengan rencana perluasan kota. Menyediakan desain rumah tipe kelas “M” (besar) dan “N” (kecil), dengan nilai sewa bulanan f 25 dan f 15. Dalam kondisi-kondisi tertentu, bahkan bisa gratis.

Apa yang bisa diselamatkan orang dengan cara hidup ini? Lampu dan air disediakan sesuai tarif kampung, dan rumah didesain sedemikian rupa. Sehingga ibu rumah tangga jika diperlukan dibantu suaminya, dapat melakukan sendiri semua pekerjaan rumah tangga, sehingga tidak ada biaya untuk pembantu. Tidak ada penghasilan, tapi juga tidak ada biaya sekolah. Selain sewa rumah dan biaya gas, listrik, dan air yang kecil, katakanlah f 25, yang ada hanya biaya makan dan sandang. Mungkin orang-orang agak aneh dengan gagasan tidak memiliki pembantu (babu atau jongos) di Hindia. Namun Dr. Eijkman yakin, bahwa banyak perempuan Belanda yang mendambakan rumah tangganya sendiri. Sehingga mereka dapat kembali melakukan pekerjaan itu sendiri, seperti yang biasa mereka lakukan pada hari Minggu di Belanda. Dan seseorang tidak perlu malu akan hal ini.

Pembangunan

Sejumlah dana sebesar f 50.000 telah disetorkan A.M.V.J. ke kas kota, sementara pemerintah telah menempatkan anggaran sejumlah f 200.000 untuk membiayai rencana Desa Taman. Penyediaan dana dari Pemerintah Kota ini, memungkinkan pengambilalihan Desa Taman oleh pemerintah kota di kemudian hari.

Tender awal untuk 50 unit rumah proyek konstruksi ini dimenangkan oleh “Firma Tan & Oort” dari Malang, dengan penawaran terendah. Untuk rumah type M sebanyak 30 unit @ f 2.215 = f 66.450 dan type N @ f 1.500 sebanyak 20 unit = f 30.000 Total f 96.450. Demikian juga dengan blok kedua sebanyak 46 unit rumah berikutnya senilai total =f 91.820.

Penyelesaian awal 50 unit rumah Desa Taman, secara resmi diserahkan pada Sabtu pagi, 3 Juni 1933. Kontraktor secara resmi menyerahkan rumah-rumahnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pada pukul 9 beberapa yang tercatat hadir diantaranya Walikota Malang (Ir. Lakeman), tuan G. von Glahn, tuan W. Baron van Asbeck dan tuan C. L. Lammers Lisnet dari A.M.V.J. Secara umum disepakati bahwa penyelesaian rumah-rumah tersebut sempurna dan baik. Pemerintah kota maupun A.M.V.J. menyatakan penghargaan mereka kepada kontraktor atas hal ini.

Kondisi Awal

Berbagai nama buah-buahan Hindia telah dipilih untuk nama jalan di komplek Desa Taman ini. Anda dapat menemukan : ManggiswegKedongdongwegManggawegDoerianweg, dll.

Komplek Taman Desa di peta lama kota Malang.

Tiga rumah yang berdiri bersebelahan di Djeroekweg yang bertipe kecil, telah dialihkan untuk keperluan umum. No. 22 digunakan untuk Clubhouse sekaligus kantor dan perpustakaan. No. 20 adalah rumah untuk anak-anak dan No.18 akan segera menjadi toko, juga tempat umum untuk perkuliahan dan pertemuan.

Bagian terkecil dari Clubhouse adalah kantor. Di sini urusan keuangan ditangani oleh pengurus, C. Lammers Lisnet, yang di Malang lebih dikenal dengan nama Oom Coen. Semua orang mengenalnya dan dia mengenal semua orang, dan yang terpenting adalah semua orang menghargainya. Ruangan besar di Clubhouse telah dibuat nyaman dengan 2 area tempat duduk, surat kabar dari Jawa Timur tersedia untuk dibaca. Terima kasih kepada manajemen surat-surat kabar ini, yang telah menyediakannya tanpa pamrih atau dengan harga berlangganan yang sangat murah. Telepon di ruangan diperuntukkan bagi penggunaan umum para penghuni.

Rokok dan minuman non-alkohol tersedia di sini dengan harga sedang. Hasilnya akan digunakan untuk melengkapi Clubhouse atau memperluas perpustakaan.

Rencana untuk membangun satu atau lebih Lapangan Tenis sudah mulai terbentuk. Gajamplein (Taman Gayam) yang luas akan disediakan untuk olahraga Korfbal (Bola Keranjang) dan Hoki.

Kunjungan Gubernur Jenderal

Dalam kunjungannya ke Malang, pada tanggal 23 Oktober 1933, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-63, Bonifacius Cornelis de Jonge, salah satu agenda adalah berkunjung ke Desa Taman ini. Film kunjungan bersejarah ini sempat direkam oleh juru kamera amatir Jan van der Kam, yang kini tersimpan di situs beeldengeluid.nl

Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-63, Bonifacius Cornelis de Jonge berkunjung ke Desa Taman di Malang, 23 Oktober 1933.
Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-63, Bonifacius Cornelis de Jonge berkunjung ke Desa Taman di Malang, 23 Oktober 1933.
Salah satu rumah di “Desa Taman”, perumahan sederhana di jalan buah-buahan kota Malang yang masih menampakkan desain aslinya.

Catatan Tambahan :

EIJKMAN, Johan, teolog Reformed Belanda dan pekerja sosial (Amsterdam 28-7-1892 -Amsterdam 22-1-1945). Putra dari Leonard Pieter Hendrik Eijkman, guru bahasa Inggris, dan Jacoba Petronella Plantenga. Menikah pada 28-3-1922 dengan Elizabeth Catharina Haspels (1895-1974). Dari pernikahan tersebut lahirlah 1 orang putra dan 1 orang putri.

Pada tahun 1930-an, Eijkman mengemukakan inisiatif yang mencolok untuk memerangi pengangguran, baik di Hindia Belanda maupun di Belanda sendiri. Dari tiga saudara laki-lakinya di Hindia Belanda – salah satunya adalah pegawai negeri sipil dan dua di antaranya bekerja sebagai administrator di industri gula – ia menerima laporan langsung mengenai pengangguran massal akibat krisis ekonomi. Dari A.M.V.J. ia melancarkan kampanye pada tahun 1931 untuk menampung sekitar enam ratus pemuda pengangguran Belanda di Desa Taman (Tuindorp) yang dibangun khusus di Bandung dan Malang. Pada tahun 1932, Eijkman dan istrinya berkeliling Jawa selama lebih dari empat bulan untuk merealisasikan rencana tersebut. Ia mendapat dukungan dari Gubernur Jenderal B. C. de Jonge. Setelah kembali, ia mendekati kabinet Colijn pada bulan September 1933 dengan rencana ‘penanganan nasional terhadap pengangguran‘. Rencana ini berisi proposal untuk pembentukan dana ketenagakerjaan yang dapat digunakan untuk membiayai langkah-langkah perluasan lapangan kerja. Namun, dalam pandangannya, Dana Kerja tahun 1934 – yang sebagian dipengaruhi oleh usulan-usulan ini – tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan. (Sumber : resources.huygens.knaw.nl)

EIJKMAN, Johan (1892-1945)

Sumber : dirangkum dari berbagai koran lama di delpher.nl

Video Kunjungan Gubernur Jenderal :

Postingan Terkait :

Ungkap Fakta Keberadaan NIMEF di Tenun Malang

Memori “TOEREN” Malang – Pabrik Tapioka Terbesar Di Jawa

Catatan Berbagai Peristiwa Hingga Jatuhnya Kota Malang ke Jepang